Sebelum menulis tulisan ini kiranya saya memohon maaf kepada seluruh orang yang mungkin akan tersinggung terhadap apa yang saya tulis ini. Tapi ini jujur karena berasal dari dalam hati saya dan saya akan ungkapkan seluruhnya.
Indonesia, suatu negara yang mempunyai kekayaan alam yang sangat melimpah ruah baik di dalam tanah maupun di dalam laut. Suatu negara yang mempunyai beragam suku, budaya, adat istiadat yang sangat wajib kita hargai dan kita hormati. Adalah suatu negeri yang mempunyai gugusan pulau terbanyak di dunia. Dari Sabang sampai Merauke, itulah yang sering kita nyanyikan.
Tetapi sayang kelebihan-kelebihan yang sering kita dengar dari guru-guru kita yang sangat kita tercinta tersebut tidak sepenuhnya benar atau ada yang bilang sama sekali salah. Hal ini dapat kita lihat contohnya: Siapa yang menambang emas di bumi Papua? Ya, yang menambang tersebut adalah orang-orang asing dengan dalih sebagai investor di bumi kita tercinta ini. Papua dengan segala kekayaan alam yang sangat banyak yang mungkin dapat diibaratkan bagai garam di laut. Namun sayang seribu sayang dalam kenyataan ini, siapakah yang menyantapnya? Ya, yang jelas bukan orang kita pastinya. Ini terlihat dari banyaknya masyarakat Papua yang hidup terbelakang, gizi buruk, tingkat kesehatan yang rendah, bahkan kasus kelaparan yang melanda dan sangat menjelekkan Indonesia di mata dunia. Terlihat begitu kontras dengan kekayaan alam yang dimilikinya. Hal inilah mungkin yang menyebabkan Indonesia masih terjebak dalam imperialisme bangsa asing. Apa sebabnya mungkin kita tidak akan pernah tahu. Apakah pemerintah yang tidak memerdulikan ataukah tekanan dari para imperialis yang beitu kuat? Begitu juga dengan kondisi perekonomian bangsa Indonesia yang sangat tergantung dengan hutang luar negeri. Ini merupakan satu hal yang sangat memalukan Indonesia,
Indonesia adalah negara yang mempunyai beragam suku, budaya, adat istiadat. Memang benar, tapi apakah kita dapat menjaga persatuan itu? Mungkin sewaktu belajar Kewarganegaraan kita dengan lantang akan menjawab “bisa!!!!”. Tapi, dalam kenyataannya sekarang apakah itu terwujud? Tidak usah disebutkan lagi bagaimana di televisi sering kita saksikan para pemuda tawuran di jalan, kampus atau tempat umum lainnya. Terjadinya kerusuhan seperti di daerah-daerah yang bahkan sampai konjen dari negara asing sampai angkat kaki dari kotanya karena tidak tahan akan kerusuhan yang berlangsung hampir setiap hari. Dan peristiwa-peristiwa ini kembali merusak citra bangsa Indonesia yang baik oleh pendiri negara generasi terdahulu menjadi buruk oleh generasi sekarang dan yang akan datang. Sering kita dengar terjadinya tawuran adalah sesuatu yang sepele seperti saling mengejek, berebutan pacar, solider atas teman karena temannya disakiti oleh penghuni kampus lain, dan banyak lagi yang sebetulnya atau pasti akan merusak hubungan antara kita masyarakat Indonesia. Kalau kita telusuri ulang sejarah berdirinya negara Indonesia ini dengan sungguh-sungguh, kita pasti akan malu terhadap apa yang telah pejuang kita berikan agar Indonesia ini bersatu dan merdeka. Mereka bahkan mau merubah sila yang pertama yang bunyinya “Ketuhanan yang maha esa dengan menjalankan syariat Islam bagi para pemeluknya” dengan “Ketuhanan yang maha esa” karena tuntutan oleh orang-orang non muslim. Dari sini saja sudah dapat kita simpulkan bahwa tingginya rasa tenggang rasa masyarakat Indonesia pada saat itu. Walaupun dulu masyarakat Indonesia terpisah-pisah oleh kerajaan yang berdiri megah di bumi pertiwi ini, namun persamaan satu rasa, perjuangan dan tujuan mereka mampu membawa Indonesia merdeka, terbebas dari belenggu penjajahan bangsa lain. Mungkin kita termangu-mangu ketika guru menjelaskan hal-hal yang penting tersebut atau bahkan tidak sedikit yang bermain dengan mimpi menganggap kisah tadi hanya sebagai dongeng sebelum tidur bagi mereka-mereka yang suatu hari nanti tidak akan memerdulikan bangsanya sendiri. Apa yang seharusnya dilakukan bangsa Indonesia untuk menjaga kesatuan dan persatuan? Pertanyaan yang jika ditanya pada anak kelas 3 SD, mereka dengan lugas menjawabnya namun begitu sulit dilakukan bahkan oleh kalangan dewan sekalipun. Kita saksikan di televisi, bila tidak sesuai dengan aspirasinya mereka akan langsung keluar dari ruangan atau ada yang kita saksikan terjadinya adu jotos yang seharusnya dilakukan oleh orang purba untuk merebut kekuasaan. Apakah Indonesia bergerak ke belakang dimana adu jotos lebih efektif dari saling bertukar pikiran? Ingat kita ini tidak hidup jutaan tahun yang lalu bung!
Indonesia adalah zamrud khatulistiwa yang mempunyai gugusan pulau yang terbanyak di dunia. Namun dalam benak kita, dapatkah bangsa Indonesia mempertahankannya? Miliaran rupiah dikeluarkan pemerintah untu membeli kapal-kapal, pesawat-pesawat tempur hanya untuk mempertahankan wilayah negara kita ini. Apakah itu cukup? Sudah jelas tidak. Kita lihat bagaimana pulau Sipadan dan Ligitan dengan mudahnya dicaplok oleh Malaysia. Dan sekarang blok Ambalat yang sedang dipertaruhkan. Pembelian pesawat tempur oleh pemerintah yang menghabiskan dana yang tidak sedikit itu sudah pasti akan sia-sia apabila peranan pemerintah untuk menanamkan nilai-nilai persatuan benar-benar ada. Rasa persatuan yang yang telah dibahas tadi sangat perlu ditanamkan terutama oleh masyarakat Indonesia yang hidup di pulau terluar tersebut. Rasa itu akan memupuk jiwa seseorang menjadi patriotisme dan akan selalu setia oleh negara walaupun nyawa taruhannya. Tapi bagaimana itu terwujud kalau para pejabat yang duduk di lembaga eksekutif dan legislative tersebut tidak mau tahu? Jangankan memupuk rasa persatuan, mungkin jumlah pulau yang ada di Indonesia tidak ada yang tahu. Nama-nama pulau di Indonesia bagaikan angin lalu oleh mereka yang punya kuasa. Di setiap sudut pikiran mereka yang ada hanyalah berapaka surplus yang mereka dapat dari para penambang asing tersebut. Tak terbenak dalam kepala mereka berapa jumlah pulau yang telah tenggelam akibat isinya telah dimasukkan ke dalam kantong demi memuaskan diri sendiri maupun keluarga yang suatu hari nanti pasti akan dihisab. Tak terpikirkan oleh mereka apa yang akan mereka wariskan kepada anak cucu mereka bila semua kekayaan negeri telah habis dibuatnya. Semoga mereka tidak mewariskan bakat korupsi ke anak cucunya. Ya, Indonesia masuk 10 besar negara terkorup di dunia sungguh merupakan prestasi yang sangat MEMALUKAN.
Dari permasalahan diatas sebenarnya banyak lagi masalah yang perlu diungkapkan. Tetapi saya rasa cukup 3 hal tersebut yang membuat Indonesia terlihat sangat memalukan bagi masyarakat sendiri maupun dunia luar.
Adapun menurut saya cara menanggulangi krisis yang memalukan tersebut:
ØMemupuk moral yang baik di kalangan masyarakat Indonesia.
Ya, hal ini mungkin yang sering dikemukakan banyak pengamat, penulis atau mereka yang peduli terhadap negeri ini. Namun kurang mendapat respon yang cukup. Terlihat bagaimana Departemen Agama yang seharusnya merupakan wadah pembentukan moral di Indonesia ini saja dapat berkorupsi. Seperti masalah catering haji dulu yang membuat jamaah haji kelaparan di tanah suci. Bahkan para jamaah haji dari negara lain turut menyumbang makanan kepada jamaah haji Indonesia. Dan sekali lagi sangat memalukan oleh bangsa Indonesia
ØRasa Persatuan
Seperti yang telah disinggung di atas tadi, rasa persatuanlah yang akan membuat bangsa Indonesia ini maju. Adanya perbedaan kultur, ras dan agama tidaklah harus membuat bangsa ini juga harus pecah bagaikan kepingan keramik yang jatuh ke lantai yang bila hancur tidak akan terlihat lagi keanggunannya, kemewahannya dan kebesarannya.
Mungkin hanya itulah yang dapat saya ungkapkan untuk postingan kali ini. Mudah-mudahan dapat bermanfaat bagi kita untuk merefleksikan diri apa yang kita perbuat untuk memajukan bangsa yang dilanda krisis multidimensi ini menuju bangsa Indonesia yang bermartabat, maju, makmur, dan merdeka.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar